
PANGKALPINANG – bangkatvnews.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memastikan pihaknya terus mencermati potensi kenaikan inflasi pada April 2026, terutama imbas kenaikan harga bahan baku plastik akibat konflik di Timur Tengah.
Kepala BI Babel, Rommy S. Tamawiwy menegaskan, pihaknya bersikap waspada terhadap berbagai dinamika global yang berpotensi mendorong kenaikan harga di daerah.
Kondisi Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan, membuat ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah cukup tinggi. Oleh karena itu, gangguan distribusi atau kenaikan harga global dapat berdampak langsung terhadap inflasi daerah.
“Bank Indonesia terus mencermati dinamika yang terjadi dan berjaga-jaga terhadap potensi kenaikan inflasi, apalagi Bangka Belitung masih bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, BI bersama pemerintah daerah terus memperkuat kerja sama antardaerah. Skema kerja sama ini dilakukan baik antar pelaku usaha (business to business) maupun antar pemerintah daerah (government to government).
Kerja sama tersebut penting untuk menjaga kelancaran distribusi serta memastikan ketersediaan stok bahan pokok tetap aman di Tengah masyarakat.
“Kerja sama antar daerah terus kami dorong, baik antarprovinsi maupun antarkabupaten/kota. Dengan begitu, daerah yang surplus bisa memasok ke daerah yang membutuhkan,” jelasnya.
Melalui langkah tersebut, BI Babel optimistis tekanan inflasi dapat tetap terkendali. Selain itu, stabilitas pasokan juga diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi daerah tetap positif di tengah ketidakpastian global.
