PANGKALPINANG – bangkatvnews.com – Bulan Ramadan tidak hanya menghadirkan suasana spiritual, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, peningkatan aktivitas ekonomi terlihat dari menjamurnya berbagai usaha kecil selama bulan suci.
Pelaku UMKM memanfaatkan momentum Ramadan dengan menjual beragam kebutuhan masyarakat, mulai dari takjil, pakaian muslim, hampers, hingga kue lebaran. Kondisi ini membuat Ramadan menjadi periode penting untuk meningkatkan omzet sekaligus memperluas pasar.
Analis Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Siti Uswatun Hasanah, mengatakan Ramadan selalu menjadi momentum yang mendorong pergerakan ekonomi rakyat.
“Ramadan tidak hanya menguatkan dimensi spiritual, tetapi juga menjadi momentum bergeraknya perekonomian rakyat, khususnya bagi pelaku UMKM yang melihat peluang dari meningkatnya konsumsi masyarakat,” ujarnya.
Aktivitas ekonomi juga terlihat dari berbagai bazar Ramadan yang digelar di sejumlah titik. Salah satunya Bazar Ramadan Urban Fest yang berlangsung di kawasan Masjid Agung Kubah Timah. Kegiatan ini memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan produk sekaligus meningkatkan penjualan.
Namun, di balik meningkatnya permintaan, pelaku UMKM juga menghadapi sejumlah tantangan. Mereka harus mampu mengelola stok bahan baku, menjaga kualitas produk, serta mengatur modal kerja dalam waktu singkat.
Menurut Siti, stabilitas harga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha kecil, terutama saat permintaan meningkat tajam.
“Perubahan harga bukan sekadar angka statistik, tetapi langsung memengaruhi biaya produksi dan daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas harga sangat penting bagi UMKM,” katanya.
Berdasarkan data Februari 2026, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami deflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan (mtm), dengan inflasi tahunan sebesar 3,31 persen (yoy). Kondisi ini menunjukkan tekanan harga relatif terkendali.
Stabilnya harga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk merencanakan produksi dan menjaga kualitas produk tanpa harus menaikkan harga secara signifikan.
“Ketika harga relatif stabil, UMKM bisa menetapkan harga jual yang wajar tanpa mengorbankan kualitas. Ini penting agar usaha tetap berjalan dan konsumen tetap mampu membeli,” jelasnya.
Meski demikian, Siti mengingatkan agar momentum Ramadan tidak hanya dimanfaatkan sebagai lonjakan musiman. Ia mendorong pelaku UMKM untuk menjadikan periode ini sebagai kesempatan memperkuat fondasi usaha.
“Pelaku UMKM seharusnya memanfaatkan lonjakan permintaan selama Ramadan untuk memperbaiki tata kelola usaha, memperkuat modal kerja, dan meningkatkan efisiensi produksi agar usaha dapat terus berkembang setelah Ramadan.” ujarnya.
Ia menambahkan, UMKM berperan strategis karena menghubungkan konsumsi rumah tangga, usaha lokal, dan sumber penghidupan masyarakat.
Dengan demikian, Ramadan tidak hanya menjadi momen peningkatan konsumsi, tetapi juga peluang untuk memperkuat ekonomi kerakyatan agar tetap berkelanjutan setelah Idulfitri.(*)
