SUNGAILIAT – bangkatvnews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka mencatat sebanyak 171 ibu hamil di Kabupaten Bangka masuk dalam kategori risiko tinggi hingga Mei 2026. Jumlah tersebut mencapai 9,09 persen dari total 1.881 ibu hamil yang tercatat sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Data tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah mengingat kehamilan berisiko tinggi berpotensi meningkatkan komplikasi hingga kematian ibu maupun bayi apabila tidak ditangani secara tepat.
Selain ibu hamil dengan risiko tinggi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka juga mencatat terdapat 380 ibu hamil atau 20,20 persen yang memiliki faktor risiko kehamilan.
Faktor risiko tersebut meliputi usia ibu kurang dari 20 tahun, anemia, memiliki anak lebih dari empat, jarak kehamilan kurang dari dua tahun, tinggi badan di bawah 145 sentimeter, kurang energi kronis (KEK), hingga berbagai kondisi kesehatan lainnya yang memerlukan pemantauan selama masa kehamilan.
Adapun kategori ibu hamil risiko tinggi meliputi kondisi seperti preeklamsia, ketuban pecah dini, ancaman kehamilan, penyakit penyerta seperti gondok, penyakit jantung, hipertensi, gangguan ginjal, maupun perdarahan akibat plasenta previa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Nora Sukma Dewi, mengatakan seluruh ibu hamil harus tercatat dalam aplikasi SIGIZI Kesehatan Keluarga (Kesga) sejak pertama kali melakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, pendataan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk pelayanan yang harus diberikan kepada ibu hamil, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko maupun risiko tinggi.
“Data ibu hamil beserta riwayat kesehatan dan kondisi berisiko sudah tercatat di fasilitas kesehatan. Jika mereka memiliki faktor risiko atau risiko tinggi, harus mendapatkan pelayanan yang bukan hanya pelayanan dasar, tetapi pelayanan sesuai kompetensi. Artinya dipantau langsung oleh dokter maupun dokter spesialis,” ujar Nora.
Nora menambahkan, pelayanan yang tepat sejak awal kehamilan menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, sepanjang tahun 2025 masih terjadi tujuh kasus kematian ibu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penurunan angka kematian ibu masih menjadi tantangan yang harus ditangani secara menyeluruh.
Intervensi, kata dia, tidak hanya dilakukan saat kehamilan berlangsung, tetapi harus dimulai sejak masa remaja hingga calon pengantin melalui edukasi kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, deteksi dini penyakit penyerta, serta pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka pun terus mendorong peningkatan kualitas pelayanan antenatal terpadu, deteksi dini kehamilan berisiko, serta penguatan sistem rujukan agar ibu hamil yang membutuhkan penanganan spesialis dapat memperoleh layanan secara cepat dan tepat.
