TOKYO, btvnews.com — Jagat media sosial dihebohkan dengan klaim bahwa Jepang berhasil “menyulap” udara dan air menjadi bahan bakar minyak. Informasi ini viral di berbagai platform, termasuk TikTok, dan memicu rasa penasaran publik: benarkah teknologi ini sudah bisa menggantikan bensin?
Faktanya, Jepang memang tengah mengembangkan bahan bakar sintetis (e-fuel) melalui teknologi canggih yang menggabungkan karbon dioksida (CO₂) dari udara dengan hidrogen yang dihasilkan dari air.
Proyek ini dikembangkan oleh perusahaan energi besar Jepang, ENEOS Corporation, melalui fasilitas uji coba di Yokohama. Teknologi yang digunakan dikenal sebagai Direct Air Capture (DAC), yakni proses menangkap CO₂ langsung dari atmosfer.
Selanjutnya, CO₂ tersebut dikombinasikan dengan hidrogen hasil elektrolisis air menggunakan listrik berbasis energi terbarukan. Dari proses inilah dihasilkan bahan bakar cair yang secara kimiawi mirip dengan bensin atau solar.
Namun, penting dicatat: teknologi ini bukan berarti air dan udara langsung berubah menjadi BBM secara instan, seperti yang ramai disalahartikan di media sosial.
Pakar energi menjelaskan bahwa proses ini tetap membutuhkan energi besar dan teknologi kompleks. Meski begitu, e-fuel dinilai sebagai solusi potensial untuk menekan emisi karbon, terutama di sektor yang sulit beralih ke listrik seperti penerbangan dan industri berat.
“Ini bukan sulap, tetapi rekayasa kimia tingkat tinggi yang memanfaatkan karbon dari udara untuk didaur ulang menjadi bahan bakar,” ungkap salah satu peneliti energi dalam laporan proyek tersebut.
Keunggulan utama e-fuel adalah kemampuannya digunakan pada kendaraan konvensional tanpa perlu modifikasi mesin. Artinya, teknologi ini bisa menjadi jembatan transisi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih.
Meski menjanjikan, tantangan besar masih menghadang. Biaya produksi yang tinggi serta keterbatasan skala industri membuat teknologi ini belum bisa diproduksi massal dalam waktu dekat.
Pemerintah Jepang sendiri menargetkan pengembangan e-fuel sebagai bagian dari strategi mencapai netralitas karbon pada 2050.
Dengan demikian, kabar viral tersebut memang memiliki dasar fakta, namun perlu diluruskan agar tidak menimbulkan misinformasi di tengah masyarakat.
