
JAKARTA — bangkatvnews.com – Likuiditas perekonomian Indonesia yang tercermin dalam uang beredar dalam arti luas (M2) menunjukkan peningkatan pada Maret 2026. Pertumbuhan M2 tercatat sebesar 9,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 8,7 persen (yoy). Secara nominal, jumlah uang beredar mencapai Rp10.355,1 triliun.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen (yoy) serta uang kuasi yang tumbuh 5,2 persen (yoy). Hal ini mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi dan likuiditas di masyarakat.
Dari sisi faktor pendorong, perkembangan M2 dipengaruhi oleh meningkatnya tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang tumbuh signifikan sebesar 39,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 sebesar 25,6 persen (yoy). Selain itu, penyaluran kredit tetap tumbuh stabil di level 8,9 persen (yoy), menunjukkan konsistensi fungsi intermediasi perbankan.
Sementara itu, uang primer atau M0 adjusted juga mencatat pertumbuhan sebesar 16,8 persen (yoy) pada Maret 2026, meskipun sedikit melambat dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 18,3 persen (yoy). Total M0 adjusted tercatat sebesar Rp2.396,5 triliun.
Pertumbuhan uang primer tersebut dipengaruhi oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia (adjusted) sebesar 41,8 persen (yoy), serta pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 8,6 persen (yoy). Penyesuaian pada M0 dilakukan untuk mengisolasi dampak kebijakan insentif likuiditas yang diterapkan oleh Bank Indonesia sejak Januari 2025.
Secara keseluruhan, peningkatan likuiditas ini mencerminkan kondisi moneter yang tetap akomodatif guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
