
JAKARTA – bangkatvnews.com – Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai turut memberi tekanan pada pasar keuangan, harga komoditas, dan perdagangan internasional.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kondisi global saat ini membutuhkan respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive, dan terukur.
“Dinamika global mendorong meningkatnya tekanan di pasar keuangan dan nilai tukar. Karena itu, kami mengoptimalkan seluruh instrumen moneter secara terukur, kontinyu, dan tepat waktu,” ujar Destry dalam seminar di Jakarta, 13 April 2026.
Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar off-shore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), maupun di pasar domestik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 148,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Sementara itu, Chief Economist BCA, David Sumual, menilai stabilitas Rupiah tidak hanya dilihat dari level nilai tukar, tetapi juga dari tingkat volatilitasnya.
“Bagi pasar, yang menjadi perhatian utama bukan hanya level nilai tukar, tetapi juga stabilitas volatilitasnya. Ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha,” jelas David.
Untuk memperkuat stabilitas, Bank Indonesia juga mewajibkan transaksi valas di atas 50 ribu dolar AS disertai dokumen underlying. Kebijakan ini bertujuan memastikan transaksi valas mendukung kegiatan ekonomi riil.
Dari sisi fiskal, Direktur DJSEF Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad, menegaskan pemerintah terus menjaga kepercayaan pasar melalui pengelolaan APBN yang prudent.
Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai stabilitas nilai tukar sangat penting untuk meredam tekanan inflasi.
“Stabilitas nilai tukar berperan penting dalam menahan dampak kenaikan harga energi dan pangan,” ujarnya.
Bank Indonesia juga memastikan likuiditas Rupiah tetap memadai untuk mendukung aktivitas ekonomi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tetap tinggi, sebagai indikasi kebijakan ekspansi likuiditas masih berjalan.
Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, termasuk mengelola SBN agar tetap menarik bagi investor dan menjaga aliran modal masuk.
Dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, Bank Indonesia juga memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT). Hingga akhir 2025, nilai transaksi LCT mencapai 25,72 miliar dolar AS, meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus menjaga efektivitas mekanisme pasar.
“Strategi operasi moneter terus kami perkuat, termasuk melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia agar tetap kompetitif dan menarik bagi investor,” katanya.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas Rupiah, memperkuat daya tarik aset domestik, serta memastikan likuiditas tetap terjaga guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
