BELITUNG – bangkatvnews.com – Festival Budaya Napak Sire Kabupaten Belitung resmi dibuka di kawasan Pantai Tanjung Pendam, Belitung. Pembukaan festival berlangsung meriah melalui penampilan Tari Sekapur Sirih massal yang melibatkan 116 penari dari berbagai sanggar seni dan sekolah di Kabupaten Belitung.
Tidak hanya itu, suasana kebersamaan juga terasa kuat melalui kegiatan Nyire Massal yang diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Tradisi nyire atau menyirih menjadi simbol budaya Melayu yang masih terus dijaga dan diwariskan hingga saat ini.
Festival Budaya Napak Sire yang digelar selama tiga hari ini menjadi bentuk sinergi antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, pelaku pariwisata, komunitas budaya, pelaku UMKM, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Belitung. Bahkan, festival ini masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, secara resmi membuka festival tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa tradisi menyirih merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan oleh generasi muda.
“Tradisi menyirih adalah bagian dari identitas budaya masyarakat Melayu Belitung yang harus kita jaga bersama. Festival ini menjadi momentum untuk memperkenalkan budaya daerah kepada wisatawan,” ujar Hidayat Arsani.
Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga turut mengambil peran aktif dalam mendukung penguatan sektor pariwisata Belitung melalui berbagai program pengembangan UMKM dan peningkatan kapasitas pelaku wisata.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rifki Ismail, mengatakan dibukanya penerbangan internasional melalui Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin menjadi peluang besar bagi Belitung untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Dengan terbukanya rute penerbangan internasional di Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin, kami berharap sektor pariwisata Belitung dapat semakin berkembang dan memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat,” kata Rifki.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Bank Indonesia menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, pengelola desa wisata, pelaku UMKM, hingga asosiasi pariwisata.
FGD tersebut membahas penguatan akses pasar UMKM melalui integrasi dengan ekosistem pariwisata, seperti hotel, desa wisata, pusat oleh-oleh, dan destinasi wisata unggulan. Dari forum tersebut juga lahir sejumlah kerja sama antara pelaku UMKM dengan hotel serta desa wisata di Belitung.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Belitung, Annyta, menilai kolaborasi antara sektor UMKM dan pariwisata sangat penting dalam meningkatkan daya saing daerah.
Sementara itu, Plt Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Adi, menyebut peningkatan kualitas layanan dan penguatan hospitality menjadi fokus utama untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara agar kembali berkunjung ke Belitung.
Selain penguatan ekosistem wisata, Bank Indonesia juga menggandeng Kampung Inggris Babel untuk memberikan pelatihan Bahasa Inggris praktis kepada lebih dari 30 pelaku pariwisata dari sejumlah desa wisata di Belitung.
Pelatihan yang digelar di kawasan Tanjung Tinggi itu bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi pelaku wisata dalam melayani wisatawan asing, terutama setelah dibukanya penerbangan langsung Singapura–Belitung.
Melalui berbagai rangkaian kegiatan tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pariwisata Belitung sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
