
JAKARTA – bangkatvnews.com – Negara-negara anggota International Monetary Fund (IMF) mendorong langkah bersama untuk menghadapi ketidakpastian global sekaligus memastikan transformasi ekonomi tetap mendukung pertumbuhan dunia. Seruan ini mengemuka dalam Pertemuan Musim Semi IMF–World Bank yang berlangsung di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 16–17 April 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa.
IMF menilai perekonomian global masih cukup tangguh di tengah ketidakpastian yang semakin kompleks, terutama akibat konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, perubahan besar di bidang teknologi, demografi, dan lingkungan menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru.
Salah satu sorotan utama adalah perkembangan artificial intelligence (AI). Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, namun juga berpotensi menimbulkan disrupsi di berbagai sektor.
Di tengah situasi tersebut, Perry menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
“Bank Indonesia terus menjaga stabilitas melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan,” ujar Perry.
Ia menambahkan, sinergi erat dengan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga kredibilitas kebijakan nasional, termasuk mempertahankan defisit fiskal di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan mengarahkan belanja negara ke sektor produktif.
Dalam jangka menengah, Indonesia juga terus mendorong transformasi struktural menuju sektor bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi.
Dalam forum tersebut, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menyepakati Global Policy Agenda sebagai panduan bersama dalam menghadapi tekanan global dan mendorong transformasi ekonomi.
IMF menekankan pentingnya sejumlah langkah strategis, mulai dari menjaga ekspektasi inflasi melalui komunikasi kebijakan yang jelas, memperkuat stabilitas sistem keuangan lewat pengawasan perbankan, hingga mempertahankan kredibilitas fiskal di tengah keterbatasan ruang anggaran.
Selain itu, negara-negara anggota juga didorong untuk mempercepat reformasi struktural, memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi dan energi terbarukan, serta mempererat kerja sama internasional.
IMF juga menyoroti pentingnya memperkuat jaring pengaman keuangan global guna meningkatkan ketahanan kolektif.
“Penguatan jaring pengaman keuangan global sangat penting agar IMF dapat memberikan dukungan yang cepat dan efektif bagi negara anggota yang membutuhkan, sekaligus meningkatkan kapasitas surveilans, pembiayaan, dan asistensi teknis,” demikian salah satu kesimpulan utama dalam pertemuan tersebut.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas global sekaligus memastikan transformasi ekonomi berjalan inklusif dan berkelanjutan.
