PANGKALPINANG, BANGKATVNEWS.COM — Peringatan Hari Nelayan Nasional setiap 6 April menjadi momentum penting untuk menyoroti nasib para nelayan, termasuk di wilayah Bangka Belitung yang dikenal memiliki potensi laut melimpah.
Namun ironis, di tengah kekayaan sumber daya laut tersebut, kesejahteraan nelayan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Sebagai daerah kepulauan, Bangka Belitung memiliki potensi perikanan yang besar dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir.
Secara nasional, jumlah nelayan Indonesia mencapai sekitar 3 juta orang, yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan laut. Namun, besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kesejahteraan.
Indikator Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang berada di kisaran angka 100 menunjukkan bahwa pendapatan nelayan masih relatif pas-pasan dibandingkan kebutuhan hidup.
Fenomena yang kerap terjadi di Bangka Belitung adalah harga ikan di pasar yang tinggi, namun tidak selalu berdampak langsung pada peningkatan pendapatan nelayan.
Hal ini disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi serta ketergantungan nelayan pada tengkulak.
Selain itu, biaya operasional melaut seperti bahan bakar, perawatan perahu, hingga alat tangkap terus meningkat.
Nelayan di Bangka Belitung juga menghadapi berbagai tantangan lain, mulai dari cuaca ekstrem, gelombang tinggi, hingga keterbatasan akses teknologi.
Di sisi lain, sejumlah kebijakan dan aktivitas di wilayah pesisir juga dinilai turut memengaruhi ruang tangkap nelayan tradisional.
Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati, menegaskan bahwa pemerintah harus lebih berpihak pada nelayan kecil.
“Hari Nelayan harus menjadi momentum untuk memastikan kebijakan tidak memarginalkan nelayan tradisional,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kiara.
Hari Nelayan Nasional yang telah diperingati sejak 6 April 1961 ini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan.
Lebih dari itu, momentum ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan konkret, seperti kemudahan akses BBM subsidi, bantuan alat tangkap, hingga perlindungan wilayah tangkap bagi nelayan lokal.
Di Bangka Belitung, nelayan berharap ada perhatian lebih agar mereka tidak hanya menjadi penonton di tengah kekayaan laut daerah sendiri.
