JAKARTA — bangkatvnews.com – Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, meminta Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari jabatannya menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp17.600 per dolar AS.
Pernyataan tersebut disampaikan Primus dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Bank Indonesia di Gedung DPR RI, Senin (18/5/2026). Ia menilai pelemahan rupiah yang terus terjadi telah menurunkan kepercayaan publik terhadap bank sentral.
“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh mungkin ini saatnya bapak mengundurkan diri. Tidak ada yang salah,” ujar Primus dikutip dari bloombergtechnoz.
Primus menilai kondisi nilai tukar rupiah saat ini merupakan anomali apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang disebut masih berada di level positif. Menurutnya, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang negara lain seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga euro.
Dalam rapat tersebut, sejumlah anggota DPR juga mempertanyakan efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
Data yang disampaikan dalam rapat menunjukkan nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.648 per dolar AS, yang disebut menjadi titik terlemah sepanjang sejarah sejak krisis moneter 1998.
Primus menegaskan, sebagai pimpinan bank sentral, Perry Warjiyo harus menunjukkan tanggung jawab moral atas kondisi tersebut.
“Anda sebagai pimpinan, sebagai tokoh utamanya harus gentleman harus berani,” kata Primus.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, pihak Bank Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan pengunduran diri tersebut. Namun BI sebelumnya menegaskan terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar valas, penguatan operasi moneter, serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Pelemahan rupiah belakangan ini dipengaruhi sejumlah faktor global, termasuk penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik internasional, serta arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.
Pengamat ekonomi menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi global yang belum stabil. Meski demikian, Bank Indonesia diyakini masih memiliki instrumen kebijakan untuk menjaga volatilitas nilai tukar tetap terkendali.
