
BANGKA – bangkatvnews.com – Seorang pelajar di Pondok Pesantren Daarul Abror, Kabupaten Bangka, menjadi korban dugaan penganiayaan oleh kakak kelasnya. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka lebam di sejumlah bagian tubuh, dan sempat pingsan hingga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Pangkalpinang.
Korban bernama Abdul Hafizh, siswa kelas satu SMA berusia 17 tahun. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu malam saat seluruh siswa kelas satu dikumpulkan oleh kakak kelas mereka. Siswa yang dianggap melakukan pelanggaran kemudian dipisahkan, termasuk korban yang saat itu dalam kondisi kurang sehat.
Korban kemudian dibawa ke lokasi gelap dengan lampu sengaja dimatikan. Di tempat tersebut, korban diduga dikeroyok oleh delapan orang seniornya. Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami luka memar di bagian perut, dada, kepala, hingga tangan.
Korban bahkan sempat pingsan usai kejadian dan harus menjalani perawatan medis. Setelah empat hari menjalani perawatan, kondisi korban kini berangsur membaik, meski masih mengalami trauma. Menurut korban, ia dipukul oleh dua orang, sementara lainnya menahan tubuhnya.
“Dipukul di dada, kepala, sama tangan, sama perut, tidak tahu berapa kali. Yang mukul dua orang, yang lainnya menahan ada enam orang. Total delapan orang. Masih ada korban lain sekitar lima orang, yang parah saya sama satu teman lagi.”
Kapolres bangka, AKBP Deddy Dwitiya Putra mengatakan,saat menjenguk korban di rumah sakit, ia melihat ada luka lebam di beberapa bagian tubuh korban. Kemungkinan masih ada korban lainnya yang menjadi korban dan belum melaporkannya ke pihak kepolisian.
“Kalau dilihat secara kasat mata memang ada tanda kekerasan. Ada bekas memar di dada dan korban masih terlihat pusing, sehingga membutuhkan perawatan intensif. Saat ini satu korban dirawat di rumah sakit, dan ada indikasi satu korban lain, namun belum ada laporan ke kepolisian.”
Kasus ini telah dilaporkan oleh orang tua korban ke pihak kepolisian. Polisi kini terus melakukan penyelidikan, termasuk mendalami kemungkinan adanya korban lain dalam kejadian tersebut.
Akibat kejadian ini, korban mengalami trauma dan berencana pindah sekolah. Sementara itu, polisi terus mengumpulkan bukti dan keterangan untuk mengungkap secara jelas kasus dugaan kekerasan di lingkungan pesantren tersebut.
