Skip to content
Mei 29, 2026
  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram
  • Tiktok
Bangka TV News

Bangka TV News

Dari Babel Untuk Indonesia

banner-promo-full-blue-revised
Primary Menu
  • Home
  • Advetorial
  • Daerah
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum Kriminal
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Photo
  • Politik
  • Tekno
  • Video
Watch Video
  • Home
  • Politik
  • Perempuan Sumatera Bangkit Hadapi Bencana Ekologis, PERMAMPU Desak Pemerintah Serius Tangani Akar Masalah
  • Politik

Perempuan Sumatera Bangkit Hadapi Bencana Ekologis, PERMAMPU Desak Pemerintah Serius Tangani Akar Masalah

bangkatvnews Maret 9, 2026 4 minutes read
IMG-20260309-WA0074

PANGKALPINANG, BTVNews.com — Konsorsium PERMAMPU (Perempuan Sumatera Mampu) bersama jaringannya di Pulau Sumatera menyerukan komitmen serius pemerintah dalam menangani bencana ekologis yang terus berulang. Seruan ini disampaikan dalam peringatan International Women’s Day (Hari Perempuan Sedunia) pada 7 Maret 2026 yang digelar secara hybrid dan diikuti 312 peserta, terdiri dari 302 perempuan dan 10 laki-laki dari 10 provinsi di Sumatera.

Kegiatan bertema “Berbagi dan Belajar Bersama: Pengalaman dan Penelitian Aksi Kepemimpinan Perempuan dalam Penanganan Bencana untuk Pemenuhan Hak Perempuan Marginal dan Keadilan Gender” itu menyoroti kuatnya peran perempuan dalam menghadapi bencana, sekaligus mengkritik lemahnya respons pemerintah terhadap krisis ekologis yang melanda berbagai wilayah di Sumatera.

Dalam sambutannya, perwakilan program INKLUSI, Ela Hasanah, menegaskan pentingnya pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan dalam penanganan bencana.

“Partisipasi perempuan menjadi kunci dalam menyelenggarakan penanganan bencana yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

Perempuan Paling Terdampak, Namun Kerap Terabaikan

PERMAMPU menyoroti bahwa setiap bencana sering menimbulkan dampak berlapis bagi perempuan dan kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, serta perempuan dari kelompok minoritas.

Namun, respons pemerintah dan relawan dinilai masih cenderung seragam dan belum sepenuhnya memenuhi standar kemanusiaan internasional seperti Sphere Association melalui Sphere Standards. Penanganan bencana juga dinilai terlalu berfokus pada rehabilitasi infrastruktur fisik, sementara kebutuhan spesifik penyintas perempuan sering terabaikan.

BACA JUGA:  Sugiono: Seluruh WNI Relawan Global Sumud Flotilla 2.0 Sudah Dibebaskan

Melalui kegiatan ini, PERMAMPU mempresentasikan pendekatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan penyintas perempuan dan kelompok rentan. Pendekatan tersebut meliputi penyediaan data terpilah, penjangkauan kelompok rentan, pemberian bantuan kebutuhan spesifik, hingga dukungan pemulihan trauma.

 

Kisah Ketangguhan Perempuan Akar Rumput

Di tengah keterbatasan, banyak perempuan justru tampil sebagai penggerak utama di lapangan.

Salah satunya adalah Nurbaeti, staf lapangan organisasi Flower Aceh yang juga menjadi korban banjir di Aceh Tamiang. Ia menceritakan perjuangannya menyelamatkan anak kembar dan orang tuanya saat banjir melanda, sementara ia terpisah dari suaminya.

Rumahnya rusak dan harta bendanya hanyut. Namun di tengah trauma itu, Nurbaeti justru membantu membuka dapur umum dan menyalurkan bantuan bagi warga di desanya.

“Saya merasa hati bisa pulih karena masih bisa membantu dan berbagi dengan orang lain yang juga membutuhkan,” katanya.

Kisah serupa datang dari Evi, seorang aktivis kemanusiaan di Sumatera Barat yang juga penyandang disabilitas. Saat banjir bandang melanda, ia berjuang menyelamatkan anak serta orang tuanya yang sudah lansia, sekaligus membantu warga sekitar dengan menghubungkan jaringan relawan untuk mempercepat bantuan.

 

Banjir Berulang, Mitigasi Minim

PERMAMPU mencatat bencana banjir berulang terus terjadi di berbagai wilayah Sumatera dengan dampak yang semakin parah. Banjir besar bahkan kembali terjadi di Lampung pada 6 Maret 2026.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla Polisikan Rismon Sianipar, Bantah Tuduhan Bohir Kasus Ijazah Jokowi

Kesaksian dari Riau menyebutkan bahwa banjir di wilayah Kampar dan Rokan Hilir kini seperti siklus lima tahunan yang dianggap “normal”.

Ironisnya, kesiapsiagaan pemerintah maupun masyarakat dinilai masih sangat minim. Pemerintah dinilai belum serius melakukan mitigasi bencana maupun mengendalikan kerusakan lingkungan yang menjadi salah satu penyebab utama bencana ekologis.

Di Aceh, misalnya, pemerintah disebut masih menerbitkan lebih dari 20 izin pengolahan lahan hutan kepada perusahaan meski wilayah tersebut sedang menghadapi situasi bencana.

Selain itu, respons tanggap darurat pemerintah juga dianggap lamban dan tidak merata. Banyak wilayah terdampak mengaku minim kehadiran bantuan negara.

 

Korban Kecil Kerap Diabaikan

Kritik juga muncul terhadap cara pandang pemerintah dalam merespons bencana yang dinilai terlalu bergantung pada “level dampak”.

MZ, perempuan berusia 23 tahun dari Tapanuli Tengah, menceritakan pengalaman pahitnya saat meminta bantuan evakuasi setelah rumah keluarganya tertimbun longsor.

Ia berusaha menyelamatkan kedua orang tuanya yang terjebak di dalam rumah. Namun permintaannya justru dianggap sepele oleh aparat.

“Kami dibilang korban sedikit, masih ada ratusan korban di tempat lain, jadi kami tidak seberapa,” ungkapnya.

Situasi serupa juga terjadi di tingkat nasional. Pemerintah pusat dinilai tidak menetapkan bencana di Sumatera sebagai bencana nasional sehingga penanganannya dianggap tidak sistematis dan minim sumber daya.

PERMAMPU mencatat, dari total usulan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sebesar Rp205 triliun, pemerintah pusat hanya mengalokasikan sekitar Rp56 triliun untuk wilayah Sumatera.

BACA JUGA:  Halal Bihalal ABPEDNAS Babel Perkuat Silaturahmi, Gubernur Hidayat Arsani Sahkan Proker 2025–2030

 

Seruan untuk Pemerintah

Dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia tersebut, PERMAMPU dan jaringannya menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah.

Pertama, mereka menegaskan bahwa perempuan akar rumput di Sumatera telah menunjukkan kapasitas resiliensi yang kuat dalam menghadapi bencana. Banyak di antara mereka merupakan anggota Credit Union yang tergabung dalam forum komunitas perempuan akar rumput.

Kedua, perempuan dan kelompok rentan perlu terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang berulang melalui penguatan organisasi komunitas yang inklusif.

Ketiga, pemerintah desa diminta membangun sistem aksi antisipatif berbasis komunitas melalui mekanisme peringatan dini dengan melibatkan perempuan, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Keempat, pemerintah pusat dan daerah didesak menangani bencana ekologis di Sumatera secara sistematis. Upaya penanganan harus berjalan paralel dengan mitigasi bencana dan konservasi hutan, serta melibatkan perempuan dan kelompok rentan secara bermakna.

PERMAMPU juga menuntut adanya komitmen nyata pemerintah dalam bentuk alokasi anggaran yang berpihak pada pemulihan dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana di Sumatera.

“Bencana yang terus berulang ini bukan semata persoalan alam, tetapi juga akibat kerusakan ekologis yang dibiarkan. Tanpa perubahan kebijakan yang serius, masyarakat—terutama perempuan—akan terus menjadi pihak yang paling terdampak,” tegas pernyataan konsorsium tersebut.

Bagikan Ke :

Post navigation

Previous: Opini: Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan
Next: Basarnas Lakukan Pencarian Nelayan Hilang di Pangkalpinang

BERITA TERKAIT

PENJUALAN KAMBING KURBAN MENINGKAT.00_04_48_03.Still001
  • Internasional
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Video

Sugiono: Seluruh WNI Relawan Global Sumud Flotilla 2.0 Sudah Dibebaskan

bangkatvnews Mei 22, 2026
download (9)
  • Daerah
  • Politik

Bupati Bangka Selatan Mutasi 3 Pejabat Administrator, Ini Nama-Namanya

bangkatvnews Mei 19, 2026
IMG-20260516-WA0020
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik

Koperasi Merah Putih Resmi Diluncurkan, Hidayat Arsani Optimistis Ekonomi Rakyat Babel Meningkat

bangkatvnews Mei 16, 2026

Connect with Us

  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram
  • Tiktok

EDITOR CHOICE

Ekonomi Bangka Belitung Triwulan I 2026 Tumbuh Sebesar 4,53% BANGKA TV.00_00_02_13.Still063 1
  • Advetorial
  • Ekonomi Bisnis

Ekonomi Bangka Belitung Triwulan I 2026 Tumbuh Sebesar 4,53%

Mei 6, 2026
Masih Terkendali, Inflasi Bangka Belitung di April 2026 sebesar 0,39 % nn 2
  • Advetorial
  • Ekonomi Bisnis

Masih Terkendali, Inflasi Bangka Belitung di April 2026 sebesar 0,39 %

Mei 6, 2026
BI Babel Perketat Seleksi UMKM di BEKISAH 2026 arief 3
  • Advetorial
  • Ekonomi Bisnis

BI Babel Perketat Seleksi UMKM di BEKISAH 2026

April 6, 2026
BEKISAH 2026, BI Babel Gencarkan Kampanye Ekonomi Syariah BEKISAH 2026, BI Babel Gencarkan Kampanye Ekonomi Syariah 4
  • Advetorial
  • Ekonomi Bisnis

BEKISAH 2026, BI Babel Gencarkan Kampanye Ekonomi Syariah

April 6, 2026
Inflasi Bangka Belitung Maret 2026 Terkendali, Terendah Kedua Nasional BANGKA TV.00_00_01_15.Still055 5
  • Advetorial
  • Ekonomi Bisnis

Inflasi Bangka Belitung Maret 2026 Terkendali, Terendah Kedua Nasional

April 2, 2026

TENTANG KAMI

BangkaTVNews adalah portal berita digital yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan terpercaya seputar berbagai peristiwa di wilayah Kepulauan Bangka Belitung serta perkembangan nasional dan internasional. BangkaTVNews.com berkomitmen menghadirkan berita yang faktual, berimbang, dan mudah diakses oleh masyarakat melalui berbagai kanal digital.

Connect with Us

  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram
  • Tiktok
  • Home
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram
  • Tiktok
Copyright © All rights reserved. | BangkaTVNews.com